Suka Duka Jadi Penumpang Kapal Pelni Tilong Kabila.
Kendari, Radar Jakarta News.com.
Jadi penumpang kelas ekonomi di Kapal Pelni Tilong Kabila, ada cerita miris yang masih dialami para penumpang.
Seperti yang diceritakan, Andi, seorang penumpang dari Makassar tujuan Bau - Bau, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Dia mengaku heran, kenapa banyak penumpang yang tidak dapat tempat tidur, padahal banyak tempat tidur yang kosong?
Ketika membeli tiket dikatakan nomor tempat tidur sudah habis, tinggal penumpang "Dek Bebas" cari sendiri tempat tidur.
Dia menduga, ada permainan pada penjualan tiket.
Harusnya, kalau mau jujur dan mengutamakan pelayanan yang baik, jangan ada permainan pada penjualan tiket.
Dampak dari banyaknya penumpang yang tidak dapat nomor kasur, jadi lahan empuk bagi para "penipu dan pemeras" di atas kapal. Mereka mencari penumpang yang baru naik dan menunjukkan tempat tempat yang kosong.
Kemudian memaksa penumpang yang baru naik itu untuk bayar Rp.50 ribu.
Para penumpang yang diperas, mengira itu Anak Buah Kapal (ABK) karena memakai ID Card. Ternyata, mereka oknum dari luar kapal yang dibiarkan masuk tapi melakukan pemerasan di atas kapal.
Model seperti ini telah berlangsung lama dan seolah ada pembiaran oleh oknum tertentu.
Pertanyaannya, kenapa mereka bisa masuk dan melakukan pemerasan penumpang kapal?
Apa peran petugas jaga sebelum masuk di kapal?
Hal - hal yang bersifat negatif dan rawan terjadi pemerasan, seharusnya di evaluasi dan dicegah, agar tidak terus berulang, dan terkesan ada permainan dan pembiaran.
Lembaga yang berperan memberikan layanan kepada masyarakat di negeri ini, seharusnya terus melakukan perbaikan dan tidak memberikan pungutan liar dan tindakan ilegal jadi tradisi dan kebiasaan buruk.
Kita sangat berharap punya kesempatan untuk berbuat baik, sebagai amal kebaikan, dan tidak membiarkan "kejahatan" sekecil apapun terjadi di depan mata kita !!!
Diketahui, KM Tilong Kabila adalah salah satu armada kapal penumpang milik PT Pelni (Persero) yang melayani rute wilayah Indonesia Timur. Kapal buatan Jerman tahun 1995 ini memiliki kapasitas 1000 penumpang dengan fasilitas lengkap, termasuk kabin kelas, restoran, musala, dan cafe.
Reporter: Andi Razak BW/redaksi.

Tidak ada komentar