Hilang Kesabaran, Masyarakat Ketungau Ancang-Ancang Boikot HUT RI hingga Pemilu Akibat Jalan Rusak
SINTANG – RDJ
Kesabaran masyarakat di wilayah Ketungau, Kabupaten Sintang, tampaknya telah mencapai titik nadir. Setelah bertahun-tahun terjebak dalam kubangan lumpur tanpa kepastian perbaikan infrastruktur, warga yang tergabung dalam Masyarakat Ketungau Bersatu akhirnya melayangkan ultimatum keras kepada pemerintah dan pihak korporasi.
Tak main-main, jika tuntutan mereka diabaikan, warga mengancam akan memboikot perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia pada Agustus mendatang, hingga aksi mogok massal pada pemilu dan pilkada.
Pernyataan sikap yang ditandatangani oleh jajaran kepala desa dan tokoh masyarakat setempat ini mencuat dalam audiensi panas di Aula Kantor Camat Ketungau Hilir. Fokus utama kemarahan warga tertuju pada hancurnya ruas jalan strategis Sintang–Semubuk–Seputau 3. Jalur nadi perekonomian tersebut kini kondisinya menyerupai kubangan lumpur pekat saat hujan, dan nyaris mustahil dilalui dengan aman.
agi masyarakat Ketungau, penderitaan menahun ini bukan lagi sekadar perkara teknis infrastruktur, melainkan simbol nyata dari ketidakadilan pembangunan yang terus mereka telan.
Tenggat Waktu dan Ancaman Blokade
Masyarakat memberikan batas waktu (deadline) yang sangat ketat hingga 18 Mei 2026 agar ada kepastian di lapangan. Jika dalam beberapa hari ke depan tidak ada pergerakan alat berat, warga berjanji akan mengambil tindakan langsung secara sepihak.
"Jika tidak ada progres, kami akan menutup total akses jalan perusahaan yang beroperasi di wilayah Desa Maung pada tanggal 20 Mei 2026," bunyi petikan tegas dalam surat pernyataan sikap warga.
Selain memblokade jalur operasional perusahaan sawit dan perkebunan di wilayah mereka, bentuk protes lain yang disiapkan warga meliputi:
Boikot total partisipasi dalam Pemilu dan Pilkada.
Menolak mengibarkan bendera dan merayakan HUT ke-81 RI.
Aksi mogok membayar pajak kendaraan bermotor.
Kemarahan kolektif ini dipicu oleh kejenuhan warga terhadap janji-janji manis di atas kertas. Rencana anggaran kerap digembar-gemborkan, namun realita di lapangan tetap saja menyuguhkan jalanan yang luluh lantak.
Respons Pemerintah: Anggaran Rp15 Miliar Masih Tahap Lelang
Menanggapi situasi yang kian genting, Camat Ketungau Hilir, Benediktus Hengky Saputra, memastikan bahwa Pemerintah Kabupaten Sintang tidak tinggal diam. Ia menyatakan aspirasi masyarakat telah diteruskan dan direspons cepat oleh Bupati Sintang melalui komunikasi intensif dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat.
Menurut Hengky, ruas jalan Sintang–Semubuk sebenarnya statusnya adalah jalan provinsi, dan tahun ini sudah dialokasikan dana segar untuk perbaikan.
"Untuk tahun anggaran 2026, sudah dianggarkan sekitar Rp15 miliar dari Dinas PUPR Provinsi Kalbar untuk pengerjaan ruas jalan tersebut. Namun, posisinya saat ini memang masih dalam tahap proses lelang," terang Hengky.
Menagih "Gotong Royong" Perusahaan Bersama
Mengingat proses lelang proyek pemerintah membutuhkan waktu, sedangkan mobilitas warga sudah lumpuh, Pemkab Sintang mengambil langkah darurat. Mengacu pada surat instruksi Bupati, pemerintah mendorong aksi kolaboratif atau gotong royong dari perusahaan-perusahaan swasta yang setiap hari mengeksploitasi jalan tersebut.
Perusahaan-perusahaan perkebunan di Kecamatan Ketungau Hilir diarahkan untuk melakukan penanganan darurat (perbaikan sementara) agar jalan tetap fungsional dan bisa dilalui, setidaknya sembari menunggu pemenang lelang dari provinsi turun ke lapangan.
"Sesuai surat bupati, perusahaan diharapkan sudah mulai bergerak melakukan perbaikan pada minggu ketiga Mei 2026. Inilah yang sekarang dituntut dan ditagih oleh masyarakat agar segera direalisasikan tanpa tapi," tambah Hengky.
Pihak kecamatan pun berharap kolaborasi antara dana pemprov dan aksi cepat tanggap Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan dapat segera memediasi konflik ini, sehingga hak masyarakat Ketungau untuk menikmati jalan yang layak—baik di musim hujan maupun kemarau—bisa segera terpenuhi sebelum gelombang protes meluas.

Tidak ada komentar