Breaking News

Nenek Moyang Orang Gayo Futuristik,Rancang Bangunan Ramah Lingkungan,Adaptif,Nyaman,dan Rahmatan Lil Alamin

 


  Aceh Tengah

-Bentuk bangunan zaman dahulu di Gayo tidak terlepas dari kondisi geografis Tanoh Gayo yang dekat dengan alam dan hutan. “Baik masjid maupun rumah masyarakat, Umah Pitu Ruang, bentuknya peratas, panggung. Terbuat dari kayu, papan. Sebab, itu material yang tersedia di Gayo karena di daerah pegunungan, bersinggungan langsung dengan hutan,” kata Yusradi Usman al-Gayoni, Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Gayo, pemateri Webinar “Sejarah Masjid Tua di Gayo” yang diselenggarakan Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Universitah Syiah Kuala (USK) melalui Zoom Meeting, Rabu (6/7/2022). 


Dalam Webinar yang pembahasannya fokus ke Masjid Asal Gayo Lues serta Masjid Asir-Asir dan Masjid Kebayakan di Aceh Tengah, dan dimoderatori Ketua Jurusan Arsitektur dan Perencanaan USK, Dr. Laina Hilma Sari, M.Sc., Yusradi menjelaskan, bangunan berbentuk panggung, lebih aman dari gangguan binatas buas. “Otomatis, lebih aman dari gangguan binatang buas karena berbentuk panggung. Juga, menghindari genangan air yang berpotensi cepat merusak bangunan tersebut. Bangunan zaman dulu juga tidak pakai paku. Tapi, dirangkai sedemikian rupa. Jadi, lebih kuat dan aman dari gempa. Apalagi, Gayo merupakan daerah lintasan gempa. Leluhur orang Gayo dulu, sudah berpikir jauh ke depan, membuat rumah yang kuat dan dan aman gempa, dengan memanfaatkan material yang ada di sekitar mereka. Mereka juga sudah paham, Gayo rawan gempa. Ini tidak terlepas dari pengalaman gempa yang mereka alami sebelumnya,” kata Yusradi. 


Bangunan panggung seperti itu, sambung Konsultan Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) Pengelolaan dan Pelestarian Warisan Budaya Dataran Tinggi Gayo-Alas (Aceh Tengah, Aceh Tenggara, Gayo Lues, dan Bener Meriah) Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) RI tahun 2019 itu, juga lebih ramah lingkungan. Pasalnya, rumah tidak menyatu dengan tanah. “Paling, ada batu, sebagai pijakan tiang-tiang utama, supaya tidak keropos dan dimakan rayap. Kayunya juga pilihan, kayu terbaik. Di sisi lain, lahannya juga tidak habis buat lantai, seperti rumah-rumah sekarang. Ada ruang buat tumbuhan. Juga, ruang buat hewan, terutama yang di dalam tanah untuk hidup. Soalnya, mereka juga punya hak hidup seperti kita. Bangunan seperti ini lebih rahmatan lil alamin. Lagi-lagi, nenek moyang orang Gayo lebih futuristik, adaptif, dan rahmatan lil alamin. Space di bawah lantai kayu juga bisa dimanfaatkan buat yang lain, seperti buat kayu bakar. Pemanfaatannya lebih, sehingga menambah nilai ekonomi,” tegas Yusradi. 


Arsitektur masjid tua di Gayo sendiri, sambung anggota peneliti Nasionalisme Bahasa Aceh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2015 itu, sama seperti masjid di Demak. “Kalau di Gayo, model yang masih tersisa seperti itu, seperti Masjid Asal di Gayo Lues, Masjid Kebayakan dan Masjid Asir-Asir di Aceh Tengah. Bentuknya persegi. Makin ke atas, atapnya makin kecil, makin mengkerucut. Ada space, buat ventilasi udara, yang membuat sejuk, nyaman, dan aman jamaah yang salat dan yang melakukan aktivitas sosial-keagamaan lainnya. Lebih-lebih, Dataran Tinggi Gayo daerahnya dingin,” sebut Yusradi. 


Pendiri dan Pengelola Perpustakaan Gayo tersebut, menduga bahwa arsitektur seperti itu tidak terlepas dari pengaruh Hindu-Bunda. Sebab, sebelum masuk Islam ke Gayo dari Perlak ke Isak, tahun 900-an masehi, Gayo, Hindu-Bunda. Hal itu dibuktikan dengan keberadaan Batu Berukir di Umang Isak, yang merupakan peninggalan budaya Hindu-Budha, abad 9-10 masehi. “Kalau motif-motif ukiran yang ada di tiang, dinding, kayu, tidak terlepas alam dan lingkungan sekitar masyarakat Gayo. Ada juga motif kerawang. Keberadaan motif ini, menarik. Apalagi, motif kerrawang Gayo karena sudah ada sejak zaman prasejarah, sejak orang Gayo menghuni Pulau Sumatera, tepatnya di Loyang Mendale sekarang, sejak 8400 tahun yang lalu,” ujarnya. 


Jauh sebelum itu, Hindu-Budha (masa sejarah), perkiraan Yusradi, bangunan-bangunan Gayo di masa lalu, dipengaruhi kelanjutan peradaban masa prasejarah, seperti temuan arkeolog di Gayo. “Bentuk rumah, lintang, bujur, tidak terlepas dari konsep Gayo prasejarah. Orang Gayo sudah menyakini adanya Tuhan, hidup, mati, dan hidup setelah mati. Ada bangunan yang menghadap matahari (barat-timur), membelakangi matahari (timur barat), utara-selatan, dan sebaliknya. Konsep ini juga kemudian berpengaruh ke pola penguburan leluhur orang Gayo di Mendale saat itu. Ada yang dikuburkan dengan kaki ditekuk, posisinya seperti bayi dalam kandungan. Filosofinya, kira-kira kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Dalam hal ini, Tuhan,” kata pendiri sekaligus pengelola Perpustakaan Gayo tersebut.


Aharuddin.

Tidak ada komentar